
Medan, NeracaPos.com – Di tengah dinamika ekonomi global yang masih dibayangi ketidakpastian geopolitik, fluktuasi harga komoditas, serta tekanan pasar keuangan internasional, sektor ekonomi syariah Indonesia justru menunjukkan prospek yang semakin cerah pada awal 2026.
Pemerintah dan pelaku industri menilai sistem ekonomi berbasis prinsip syariah memiliki daya tahan tersendiri karena mengedepankan asas kehati-hatian (prudential), keseimbangan, serta keterkaitan langsung dengan sektor riil.
Sebagai negara dengan populasi muslim terbesar di dunia, Indonesia memiliki potensi pasar domestik yang sangat besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi syariah secara berkelanjutan.
Salah satu penggerak utama pertumbuhan adalah sektor perbankan syariah. Kehadiran Bank Syariah Indonesia (BSI) sebagai bank syariah terbesar di Tanah Air memperkuat posisi Indonesia dalam peta keuangan syariah global.
Model pembiayaan berbasis bagi hasil dan akad yang transparan dinilai lebih adaptif menghadapi tekanan ekonomi dibandingkan sistem berbasis bunga yang rentan terhadap fluktuasi suku bunga global.
Produk-produk seperti tabungan haji, pembiayaan UMKM, hingga kredit properti syariah mencatat pertumbuhan stabil. Pemerintah pun terus mendorong inklusi keuangan syariah agar menjangkau masyarakat hingga ke daerah.
Selain perbankan, industri halal menjadi tulang punggung baru ekonomi syariah nasional. Sektor makanan dan minuman halal, fesyen muslim, kosmetik, hingga pariwisata ramah muslim mengalami ekspansi signifikan dalam beberapa tahun terakhir.
Indonesia juga aktif mempromosikan diri sebagai pusat industri halal dunia melalui berbagai forum internasional, termasuk Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) yang menjadi ajang kolaborasi pelaku usaha, regulator, dan investor global.
Di sektor pasar modal, instrumen syariah seperti sukuk negara dan reksa dana syariah menunjukkan tren positif. Indeks Jakarta Islamic Index (JII) menjadi alternatif investasi bagi investor yang mengedepankan prinsip etis dan keberlanjutan.
Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Al-Washliyah Medan, Hablil Ikhwana, SE, MM, saat di temui neracapos.com pada Senin 23 Februari 2026 menilai, karakter investasi syariah yang menghindari sektor spekulatif dan bisnis berisiko tinggi membuatnya relatif lebih stabil dalam menghadapi gejolak global 2026.
Menurutnya, sistem syariah menekankan pada keadilan, transparansi, serta pembagian risiko yang seimbang antara pelaku usaha dan lembaga keuangan.
“Ekonomi syariah memiliki fondasi yang kuat karena bertumpu pada sektor riil dan prinsip kehati-hatian. Ini menjadi keunggulan tersendiri di tengah volatilitas ekonomi dunia,” ujarnya.
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa tantangan tetap ada, terutama dalam peningkatan literasi keuangan syariah serta daya saing produk halal Indonesia di pasar internasional.
Pemerintah terus memperkuat regulasi, memberikan insentif fiskal, serta mendorong digitalisasi layanan keuangan syariah guna memperluas akses, khususnya bagi UMKM dan generasi muda.
Dengan kombinasi populasi besar, dukungan regulasi, serta pertumbuhan industri halal yang konsisten, Indonesia dinilai memiliki peluang nyata menjadi pusat ekonomi syariah dunia dalam beberapa tahun mendatang.
Di tengah ketidakpastian ekonomi global 2026, ekonomi syariah bukan sekadar alternatif, melainkan berpotensi menjadi arus utama baru dalam pembangunan nasional yang inklusif, berkeadilan, dan berkelanjutan.





