Diskusi AIK dan Kemuhammadiyahan Menguat, Tokoh Pendidikan Bahas Penguatan Karakter Perguruan Tinggi di Grand Mercure Medan

Medan, NeracaPos.com – Upaya memperkuat nilai-nilai keislaman dan karakter kebangsaan di lingkungan perguruan tinggi terus menjadi perhatian para akademisi. Hal itu tercermin dalam kegiatan diskusi tentang Al-Islam, Kealwashliyahan, dan Kemuhammadiyahan yang berlangsung di Grand Mercure Hotel Medan,
Diskusi tersebut menghadirkan Prof. Dr. H. Tobroni, M.Si serta Ketua Badan Kenaziran dan Wakaf UNIVA Medan, Wakil Ketua PB AW Dr. Ismail Effendi sebagai narasumber utama dan diikuti oleh sejumlah tokoh pendidikan tinggi, di antaranya Anggota Badan Penyelenggara Harian (BPH) Universitas Al Washliyah Medan serta Prof. Dr. Asmuni, M.Ag., yang merupakan Profesor Emeritus Program Studi Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Al Washliyah Medan (UNIVA Medan).
Kegiatan berlangsung dalam suasana akademik yang hangat dan produktif dengan membahas berbagai perspektif mengenai penguatan nilai-nilai Islam dalam sistem pendidikan tinggi, pengembangan karakter mahasiswa, serta peran organisasi Islam dalam membangun peradaban bangsa.
Dalam diskusi tersebut, para peserta menyoroti pentingnya menjadikan Al-Islam dan Kealwashliyahan (AIK) maupun nilai-nilai Kemuhammadiyahan sebagai fondasi dalam pengembangan sumber daya manusia yang unggul dan berintegritas.
Prof. Tobroni menjelaskan bahwa perguruan tinggi saat ini menghadapi tantangan besar akibat perkembangan teknologi, globalisasi, dan perubahan sosial yang berlangsung sangat cepat. Oleh karena itu, nilai-nilai keagamaan harus menjadi landasan utama dalam membentuk karakter generasi muda.
Menurutnya, pendidikan tinggi tidak hanya berfungsi sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai institusi yang bertanggung jawab membangun moralitas, etika, dan kepemimpinan bangsa.
“Perguruan tinggi harus mampu mengintegrasikan kecerdasan intelektual dengan kecerdasan spiritual dan sosial agar menghasilkan lulusan yang tidak hanya kompeten, tetapi juga memiliki karakter yang kuat,” ungkap Prof. Tobroni dalam forum diskusi.
Sementara itu, Prof. Dr. Asmuni, M.Ag., menekankan pentingnya menjaga dan mengembangkan nilai-nilai keislaman yang telah menjadi bagian dari sejarah panjang organisasi kemasyarakatan Islam di Indonesia.
Ia menilai bahwa Al Washliyah maupun Muhammadiyah memiliki kontribusi besar dalam pembangunan pendidikan nasional, khususnya dalam mencetak generasi yang berilmu, berakhlak, dan memiliki kepedulian terhadap kemajuan umat.
Menurutnya, penguatan nilai AIK harus terus dilakukan secara berkelanjutan agar mampu menjawab berbagai tantangan zaman tanpa kehilangan identitas keislaman.
Diskusi yang berlangsung selama beberapa jam tersebut juga membahas pentingnya kolaborasi antarperguruan tinggi dan tokoh pendidikan dalam merumuskan konsep pendidikan Islam yang adaptif terhadap perkembangan zaman.
Para peserta sepakat bahwa penguatan nilai-nilai keislaman harus berjalan seiring dengan pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi sehingga perguruan tinggi mampu menghasilkan lulusan yang siap menghadapi persaingan global.
Melalui forum seperti ini, diharapkan lahir berbagai gagasan konstruktif yang dapat memperkuat peran perguruan tinggi Islam dalam menciptakan generasi unggul yang berkontribusi bagi pembangunan bangsa dan negara.
Saat ditemui NeracaPos.com di ruang kerjanya pada Sabtu 22/6/2026 Rektor Universitas Al Washliyah (UNIVA) Medan Prof. Dr. Saiful Akhyar Lubis, M.A. menyampaikan bahwa diskusi sekaligus silahturahmi tersebut berlangsung pada Jumat 19 Juni 2026 lalu. ia juga mengapresiasi terselenggaranya diskusi yang mempertemukan para tokoh pendidikan dan akademisi tersebut.
Menurutnya, pembahasan mengenai Al-Islam, Kealwashliyahan, dan Kemuhammadiyahan sangat penting untuk memperkuat identitas perguruan tinggi Islam di tengah arus perubahan global.
“Diskusi seperti ini sangat strategis karena menjadi ruang pertukaran gagasan antara para akademisi dan tokoh pendidikan dalam memperkuat nilai-nilai keislaman sebagai fondasi pembangunan sumber daya manusia. Perguruan tinggi harus mampu melahirkan generasi yang unggul secara intelektual sekaligus kuat dalam moral dan spiritual,” ujar Prof. Saiful Akhyar Lubis.
Ia menambahkan bahwa UNIVA Medan akan terus mendukung berbagai forum ilmiah yang mendorong penguatan karakter, integritas, dan budaya akademik berbasis nilai-nilai Islam.
“Kami berharap hasil diskusi ini dapat menjadi inspirasi dalam pengembangan kurikulum, pembinaan mahasiswa, serta penguatan budaya akademik yang berorientasi pada keunggulan, integritas, dan kemaslahatan umat,” pungkasnya.




